Wartawan Afghanistan dibunuh
Rabu, 22 Februari 2012 23:51 WIB | 1180 Views
Khost, Afghanistan (ANTARA News) - Seorang wartawan radio Afghanistan dipancung di Paktika, provinsi tenggara yang dilanda kekerasan, setelah ia diajak ke sebuah pertemuan oleh orang-orang tak dikenal, kata seorang pejabat, Rabu.
Mayat Samid Khan Bahadarzai (25), yang bekerja untuk sebuah stasiun radio lokal di kota Urgun, ditemukan Selasa malam di dekat rumahnya beberapa jam setelah ia menerima telefon, lapor AFP.
"Kami masih menyelidiki untuk mengetahui siapa di balik
pemenggalan brutal ini, namun ia dibunuh setelah menerima telefon dari
seseorang yang memintanya keluar," kata kepala kepolisian provinsi itu,
Dawlat Khan Zadran, kepada AFP.
Wartawan di masa silam menjadi sasaran serangan gerilyawan
Taliban yang menolak peliputan mereka, namun seorang juru bicara Taliban
mengatakan kepada kantor berita Afghan Islamic Press, mereka tidak
mendalangi pembunuhan Bahadarzai.
"Mujahidin tidak pernah membunuh wartawan," kata Zabiullah
Mujahid. "Taliban bisa mengatasi masalah dengan wartawan dengan
berbicara langsung dengan mereka."
Pada 2007, wartawan dan penterjemah Afghanistan Ajmal Naqshbandi
dipenggal kepalanya setelah tertinggal di belakang ketika seorang
wartawan Italia dibebaskan oleh Taliban.
Konflik meningkat di Afghanistan dengan jumlah kematian sipil dan
militer mencapai tingkat tertinggi tahun lalu ketika kekerasan yang
dikobarkan Taliban meluas dari wilayah tradisional di selatan dan timur
ke daerah-daerah barat dan utara yang dulu stabil.
Sebanyak 711 prajurit asing tewas dalam perang di Afghanistan
sepanjang tahun 2010, yang menjadikannya sebagai tahun paling mematikan
bagi pasukan asing, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas situs
independen icasualties.org.
Jumlah kematian sipil juga meningkat, dan Kementerian Dalam
Negeri Afghanistan mengumumkan bahwa 2.043 warga sipil tewas pada 2010
akibat serangan Taliban dan operasi militer yang ditujukan pada
gerilyawan.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan
pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi
pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaida
Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah
Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional
(ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara berada di
Afghanistan untuk membantu pemerintah kabul memerangi pemberontakan
Taliban dan sekutunya.
Sekitar 521 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan
tahun itu sebagai tahun mematikan bagi pasukan internasional sejak
invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap
perang itu merosot.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir
jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan
pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi)
mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan,
menurut militer. (M014) Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com