Abbas tiba di Kairo untuk berunding dengan pemimpin Hamas
Rabu, 22 Februari 2012 23:48 WIB | 1295 Views
Kepala Intelijen Mesir Murad Muwafi (kiri ke kanan), Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Ketua Dewan Nasional Palestina Salim al-Zanoun dan pemimpin Hamas Khaled Meshall terlihat dalam suatu pertemuan di Kairo, Kamis (23/2). (REUTERS/Khaled Elfiqi/Pool )
Berita Terkait
Kairo (ANTARA News) - Presiden Palestina Mahmud Abbas tiba di Kairo, Rabu, untuk berunding dengn pemimpin Hamas Khaled Meshaal mengenai pembentukan pemerintah persatuan nasional, kata kantor berita Mesir MENA, lapor AFP.
Kedua pihak sejauh ini berusaha melaksanakan ketentuan perjanjian rekonsiliasi yang ditandatangani di Kairo pada Mei tahun lalu, yang menetapkan pembentukan pemerintah sementara dari kalangan independen untuk membuka jalan bagi pemilihan umum presiden dan parlemen Palestina dalam waktu setahun.
Perwakilan dari gerakan Fatah kubu Abbas dan Hamas telah bertemu
beberapa kali untuk berusaha menyelesaikan susunan final pemerintah dan
siapa yang akan memimpinnya.
Sebelumnya Rabu, anggota-anggota kepemimpinan Hamas mengatakan,
perjanjian harus dilaksanakan secara "menyeluruh dan jujur".
"Kami menekankan pentingnya pelaksanaan yang lengkap dan jujur
dari perjanjian rekonsiliasi Kairo dan Doha untuk mengakhiri perpecahan
dan menyatukan front nasional," kata mereka dalam sebuah pernyataan
setelah pertemuan di Kairo.
Perbedaan penting mengenai pemegang pos perdana menteri tampaknya
telah terpecahkan pada awal Februari, ketika Abbas dan Meshaal
menandatangani kesepakatan di Qatar yang menempatkan presiden Palestina
itu sebagai kepala pemerintah sementara.
Namun, anggota-anggota parlemen Palestina yang sebagian besar
dari Hamas segera mendesak pembatalan perjanjian dengan Fatah itu karena
alasan konstitusi.
"Setelah pemeriksaan masalah Mahmud Abbas yang menjadi perdana
menteri serta presiden" dan konsultasi dengan para ahli hukum, hal itu
terbukti bertentangan dengan undang-undang dasar, kata 31 anggota
parlemen Hamas dalam sebuah pernyataan pada 8 Februari.
Mereka mengatakan setelah pertemuan di parlemen di Kota Gaza, UUD
menetapkan pemisahan kedua jabatan tersebut, sementara Fatah membantah
ada pelanggaran undang-undang dalam kaitan dengan hal itu.
Hamas dan Fatah menandatangani sebuah perjanjian rekonsiliasi
antara kedua pihak pada Mei 2011 namun hingga kini belum
melaksanakannya.
Perjanjian itu menetapkan pembentukan pemerintah sementara dari
kalangan independen yang akan mempersiapkan pemilihan umum dalam waktu
setahun.
Namun, perjanjian itu tidak pernah dilaksanakan dan kedua pihak
mempermasalahkan susunan pemerintah sementara dan siapa yang akan
memimpinnya.
Kubu Abbas yang berkuasa di Tepi Barat mengusulkan pemilu pada Januari untuk mengatasi masalah itu.
Terakhir kali rakyat Palestina memberikan suara adalah dalam
pemilihan umum parlemen pada 2006, dimana Hamas mencapai kemenangan
besar.
Pemilu parlemen dan presiden telah dijadwalkan berlangsung pada
Januari 2010 namun Pemerintah Palestina tidak melaksanakannya setelah
Hamas menolak menyelenggarakan pemungutan suara di Gaza.
Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah
mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmud
Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.
Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel.
Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah -- Jalur Gaza yang
dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.
Kini kedua kubu tersebut telah melakukan rekonsiliasi.
Uni Eropa, Israel dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris.
Jalur Gaza, kawasan pesisir yang padat penduduk, diblokade oleh Israel dan Mesir setelah Hamas berkuasa empat tahun lalu.
Israel menggempur habis-habisan Jalur Gaza dua tahun lalu dengan
dalih untuk menghentikan penembakan roket yang hampir setiap hari ke
wilayah negara Yahudi tersebut.
Operasi "Cast Lead" Israel itu, yang menewaskan lebih dari 1.400
orang Palestina yang mencakup ratusan warga sipil dan menghancurkan
sejumlah besar daerah di jalur pesisir tersebut, diklaim bertujuan
mengakhiri penembakan roket dari Gaza. Tiga-belas warga Israel, sepuluh
dari mereka prajurit, tewas selama perang itu.
Proses perdamaian Timur Tengah macet sejak konflik itu, dan Jalur
Gaza yang dikuasai Hamas masih tetap diblokade oleh Israel. (M014) Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com