Ketiganya akan memaparkan hasil penelitian mereka perihal lingkungan hidup.
Berita Terkait
Bogor (ANTARA News) - Tiga pelajar SD Bantarjati 9 Kota Bogor, Jawa Barat, akan mewakili Indonesia dalam konferensi lingkungan anak internasional tingkat Asia Timur di Jepang, pada 29 Febuari 2012.

Kepala SD Bantarjati 9 Yayah Komariah di Bogor, Selasa, mengatakan, tiga pelajar itu Azriel Fathan Nabhani (11), Rizky Indah FSP (12), dan Irda Dwi Juliyanti (11).

"Ketiganya akan memaparkan hasil penelitian mereka perihal lingkungan hidup," katanya.

Yayah juga mengemukakan bahwa penelitian tersebut dilakukan sejak Oktober 2011.

Dalam konferensi lingkungan itu, Azriel Fathan Nabhani akan memaparkan hasil penelitian derajat keasaman air hujan, Rizky Indah FSP mengusung tema penelitian tentang konsentrasi debu. Sedangkan Irda Dwi Juliyanti tema penelitiannya berkaitan dengan penanaman biji kawari atau tunas biji lobak.

Menurut Rizki Indah, penelitian konsentrasi debu telah dilakukannya selama tiga bulan.

Penelitian dilakukan di Jalan Pajajaran dan Jalan Gagalur Bantarjati Bogor.

"Hasilnya dalam penelitian di depan Rumah Sakit Azra di Jalan Pajajaran konsentrat debu mencapai angka 7-12, sedangkan di Jalan Gagalur konsentrat mencapai 2-6. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrat, semakin tinggi polusi udara," katanya.

Yayah Komariah menjelaskan, khusus konsentrasi debu dengan objek penelitian di Jalan Pajajaran dipilih karena lalu lintasnya sangat padat.

Pembandingnya, katanya, dipilih Jalan Gagalur yang relatif lebih sepi dari hilir mudik kendaraan sehingga para siswa dapat membandingan konsentrasi polusi di dua jalan tersebut.

Penelitian hujan asam oleh Azriel dilakukan di lingkungan sekolah.

Azriel menjelaskan, air hujan yang akan ditampung harus air hujan yang langsung jatuh dari langit sehingga tidak terkena terpaan apapun. Penampungan air hujan harus dilakukan di tempat terbuka seperti di lapangan.

"Alat yang kami gunakan Amehikokun seperti pompa isap untuk mengukur keasaman air hujan, kertas pengering untuk mengukur kepekatan debu dan pipet," katanya.

Penelitian penanaman biji kawari oleh Irda Dwi Julianti dilakukan di lingkungan sekolah.

Tunas biji lobak tersebut ditanam dan disiram dengan air yang bermacam kadar asamnya.

Yayah Komariah menjelaskan bahwa penelitian ketiganya merupakan hasil kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dengan The Network Center for the Acid Deposition Monitoring Network in East Asia (EANET) atau Pusat Jaringan untuk Deposisi Asam Jaringan Monitoring Asia Timur Jepang.

Alat-alat yang digunakan para pelajar seperti kertas kapas, kapas untuk meneliti biji kaware, pinset, kertas lakmus, cairan BCG, dan gelas bekker, yang merupakan alat-alat yang diberikan EANET Jepang sejak Agustus 2011. (A035)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar