India kini menjadi magnet bagi ASEAN
Jumat, 17 Februari 2012 23:53 WIB | 2858 Views
Faisal Yunianto
Ilustrasi (ANTARANews/Ardika)
Berita Terkait
New Delhi (ANTARA News) - Hubungan India dengan Perhimpunan Negara Asia Tenggara (ASEAN) mengalami perkembangan pesat selama dua dasawarsa terakhir, terlihat dari berbagai akselerasi yang dicapai di bidang kerja sama ekonomi, perdagangan dan, investasi.
India dan ASEAN selama ini juga telah mempunyai hubungan erat yang menyeluruh sehingga memiliki pemahaman yang lebih baik di bidang sosial, budaya, politik, dan keamanan.
Kemajuan dalam konektivitas ASEAN-India juga ditopang oleh "Kebijakan Melihat ke Timur" yang dilakukan India sejak pemerintahan Perdana Menteri Narasimha Rao, pada 1992.
Ekonomi India saat ini memang sedang mengalami periode terbaik sepanjang sejarahnya. Bersama China, India kini menjadi negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.
Kebijakan ekonomi pemerintah India yang jauh lebih terbuka dibandingkan sepuluh tahun lalu, serta 1,2 miliar jiwa penduduknya jelas merupakan pasar menjanjikan bagi ASEAN. Studi oleh McKinsey Global Institute (MGI) menyebutkan bahwa pasar India diperkirakan akan menjadi kelima terbesar di dunia tahun 2025.
Sementara ASEAN sendiri merupakan pasar dengan 600 juta jiwa penduduk di mana total nilai Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 1,8 triliun dolar AS.
Kombinasi dari keduanya, ASEAN-India akan menciptakan integrasi pasar bagi 1,8 miliar orang dengan nilai PDB mencapai 3,6 triliun dolar AS atau 5,7 persen dari total PDB dunia.
Dari perspektif tersebut maka kerja sama perdagangan berperan penting untuk terciptanya integrasi ekonomi ASEAN-India.
Langkah awal yang sudah dicapai kedua pihak adalah dengan penandatanganan kerangka perjanjian kawasan perdagangan bebas (FTA) saat KTT ASEAN-India di Bali Oktober 2003. FTA kemudian diikuti dengan perjanjian perdagangan di sektor barang yang berlaku mulai 1 Januari 2010. Sementara untuk sektor jasa, kedua pihak masih melakukan perundingan.
Institut Kajian Asia Tenggara Singapura (ISEAS) menyebutkan bahwa ada peningkatan yang cukup tajam dari ekspor India ke negara-negara ASEAN dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2010, total nilai perdagangan antara ASEAN dengan India mencapai 55,4 miliar dolar, naik 42 persen dari 2009. Pencapaian itu mencakup 2,7 persen dari total pangsa perdagangan ASEAN pada tahun yang sama. Nilai perdagangan ASEAN-India diprediksi akan tembus 70 miliar dolar AS pada tahun 2012.
Begitu pula investasi asing langsung (FDI) dari India ke ASEAN pada 2010 mencapai 2,6 miliar dolar, naik 221 persen dari 2009. Angka tersebut mencakup 3,4 persen dari total FDI ke ASEAN selama 2010.
"Meskipun krisis ekonomi global baru-baru ini, India terbukti masih menjadi mitra dagang terbesar ketujuh dan investor terbesar keenam ASEAN," kata Direktur ISEAS, K Kesavapany saat berbicara pada Delhi Dialogue IV, Selasa (14/2) lalu.
Dalam situasi ekonomi global seperti sekarang, India dan ASEAN berkepentingan menjalin kerja sama untuk meningkatkan kemakmuran di kawasan.
Potensi perdagangan ASEAN-India sebenarnya bisa lebih besar lagi apabila potensi di sektor jasa bisa lebih maksimal.
Pengembangan di sektor jasa sebenarnya mempunyai prospek cukup baik. Untuk pariwisata, misalnya jumlah kedatangan turis India ke negara-negara ASEAN selama 2010 mencapai 2,5 juta orang, naik cukup banyak dibandingkan tahun senelumnya 2,1 juta turis.
Namun untuk teknologi informasi dan komunikasi (ICT), pangsa ICT India ke Indonesia, Malaysia, Filipina bahkan Singapura masih jauh dibandingkan dengan perdagangan ICT India ke luar ASEAN. Hal ini dapat dimaklumi mengingat ICT merupakan penggerak utama perdagangan jasa India.
Walaupun hubungan ASEAN-India mengalami kemajuan namun masih ada sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Kesavapany mengingatkan bahwa ASEAN-India merupakan rumah dari sebelas negara dengan latar belakang dan kemampuan ekonomi yang bervariasi.
Kesenjangan itu ditambah dengan perbedaan besar dalam politik, kelembagaan dan sejarah jika tidak dikelola dengan baik bisa menjadi kontra produktif.
Penyatuan infrastuktur
Faktor lain yang perlu mendapat perhatian utama pemerintah PM Manmohan Singh adalah soal komitmen menyatukan infrastruktur ASEAN-India mengingat infrastruktur dan sektor ritel akan menjadi target utama investor ASEAN menanamkan modalnya di India.
Pemerintah India perlu terus melakukan reformasi kelembagaan dan ekonomi termasuk lingkungan bisnisnya.
Peran India dalam pembangunan infrastruktur yang menghubungkan India dengan ASEAN, sangat vital dan dapat selaras dengan Rencana Induk Konektivitas ASEAN (MPAC).
ASEAN dan India ingin mewujudkan penyatuan infrastruktut melalui pembangunan jalan bebas hambatan yang menghubungkan India-Myanmar-Thailand. Jalan ini nantinya akan diperpanjang hingga Laos dan Kamboja.
Rencana tersebut akan dibiayai oleh Dana Infrastruktur ASEAN (AIF) yang baru saja dibentuk, swasta dan bantuan dari lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan ADB.
Sementara dari perspektif Indonesia, daya tarik India sebagai magnet baru selain China di kawasan Asia, harus mampu dimanfaatkan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi kedua negara.
Deputi Sekjen ASEAN, Bagas Hapsoro mengatakan, Indonesia bisa menawarkan berbagai peluang untuk menarik investasi India terutama di sektor infrastruktur, pertambangan, energi dan pariwisata.
Bagas mencatat ada beberapa faktor yang menjadikan posisi India menguntungkan sebagai mitra dagang Indonesia ketimbang dengan China meskipun pertumbuhan negara Tirai Bambu masih seidkit di atas India.
Hubungan Indonesia dengan India sudah terjalin sangat lama sejak awal Indonesia merdeka. Keduanya juga mempunyai kedekatan budaya seperti dalam pewayangan maupun bahasa jawa sansekerta.
Hal lainnya adalah India lebih terbuka dalam soal politik dan Hak Asasi Manusia ketimbang China. Yang terakhir ini sejalan dengan prinsip yang dianut masyarakat internasional, kata Bagas.
(F004/Z002))
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com