Jalan panjang menuju Wuhan
Jumat, 17 Februari 2012 06:50 WIB | 2706 Views
Fitri Supratiwi
Taufik Hidayat tetap menjadi salah satu tulang punggung tim Thomas Cup Indonesia di Wuhan, China. (ANTARA/Yusran Uccang)
Berita Terkait
Makau (ANTARA News) - Kubu tim Indonesia tertegun ketika pasangan Bona Septano-Mohammad Ahsan yang semula tampaknya akan menang, ternyata menyerah kepada pasangan Korea, Ko Sung Hyun-Yoo Yeon Seong 21-18, 20-22, 19-21.
Setelah merebut game pertama 21-18, peraih medali emas SEA Games itu sudah di ambang kemenangan ketika unggul 20-17 pada game kedua, namun lawan berhasil mengejar dan membalik keadaan dengan memenangi dua game berikutnya 22-20, 21-19.
Indonesia tertinggal 0-2 dari Korea --setelah tunggal pertama Simon Santoso lebih dulu kandas di tangan Lee Hyun il-- pada babak perempat final kualifikasi Piala Thomas zona Asia yang berlangsung di Macau Forum, pada Kamis (16/2) malam yang dingin.
Korea hanya memerlukan satu poin lagi untuk melaju ke semifinal yang juga membuka jalan untuk meraih satu tempat di putaran final Piala Thomas di Wuhan, China, Mei mendatang.
Pikiran bahwa untuk pertama kalinya Indonesia, pemegang rekor lima kali juara berturut-turut, tidak lolos ke putaran final Piala Thomas mulai muncul di benak tim Merah Putih, yang harus buru-buru ditepis. Perjuangan belum berakhir.
Dan Taufik Hidayat, juara Olimpiade Athena 2004 mempertahankan harapan tim Indonesia tetap hidup dengan meraih angka pertama bagi tim melalui kemenangan atas Shon Wan Ho 21-11, 21-15.
Kekalahan pasangan Markis Kido-Hendra Setiawan, pada game pertama 19-21, sempat membuat tim Indonesia kembali tegang. Jika mereka gagal merebut game kedua dari pasangan Lee Yong Dae-Shin Bael Cheol, maka harapan yang tinggal setitik itu pun melayang.
Namun pasangan juara Olimpiade Beijing 2008 itu mampu mengatasi ketegangan dan berhasil merebut dua game berikutnya 21-17, 21-17 untuk menyamakan kedudukan, masing-masing tim meraih dua kemenangan.
Ketegangan belum berakhir. Partai penentuan antara Tommy Sugiarto melawan Hong Ji Hoon juga berlangsung alot.
Saat malam mulai larut dan satu-persatu penonton di Macau Forum, tempat berlangsungnya turnamen tersebut, mulai meninggalkan stadion berkapasitas 4.000 tempat duduk yang tidak pernah terisi penuh, bahkan separuhnya pun tidak, Tommy harus berjuang demi kemenangan tim Merah Putih.
Tanpa banyak kesulitan, putra mantan juara dunia Icuk Sugiarto itu merebut game pertama 21-7, namun ia tampak kesulitan pada game kedua dan menyerah 16-21.
Ketegangan tim Indonesia masih berlanjut.
Para pendukung yang masih setia menyaksikan pertandingan, mulai meneriakkan nama Tommy untuk memberinya semangat. Semua itu tidak sia-sia ketika Tommy akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor akhir 21-7, 16-21, 21-18. Semua bersorak.
"Pada game kedua saya sempat tegang, padahal dari awal sudah bisa menekan sehingga permainan lawan tidak berkembang. Untungnya saya bisa mencuri start pada game ketiga dan unggul jauh," kata Tommy dengan nada gembira.
Penentu Kemenangan
"Saya senang bisa menjadi penentu kemenangan tim Indonesia. Namun ini adalah hasil dari kerjasama tim," ujar Tommy usai pertandingan yang berlangsung hingga tengah malam itu.
Tampilnya Tommy pada malam itu tidak terlepas dari keputusan pelatih tunggal putra Agus Dwi Santoso yang memutuskan menurunkan pemain kelahiran Jakarta 31 Mei 1988 tersebut, setelah kecewa dengan penampilan pemain Pelatnas Dionysius Hayom Rumbaka pada malam sebelumnya saat Indonesia melawan India.
Alih-alih menang dan menyumbang angka bagi tim, Hayom malah kalah secara mengecewakan dari pemain India Sai Preneeth 21-13, 15-21, 9-21.
"Dia kelihatan tidak siap untuk menghadapi kesulitan di lapangan. Agak menyepelekan lawan dan kurang fokus," kata Agus menyatakan kekecewaan terhadap atlet yang ia bina sejak di klub Djarum Kudus hingga Pelatnas itu.
Kemenangan tersebut bukan berarti tim Indonesia, yang terakhir kali menjuarai Piala Thomas pada 2002 di Guangzhou, China, lepas dari masalah.
Pada semifinal, Jumat malam, tim Merah Putih kembali menghadapi ujian berat, bertemu tim juara bertahan China untuk memperebutkan satu tempat di final kualifikasi.
Keikut-sertaan China pada kualifikasi tersebut sempat memicu protes dari beberapa negara karena tim Negeri Tirai Bambu itu sudah otomatis lolos ke putaran final baik sebagai juara bertahan maupun sebagai tuan rumah.
Namun tim asuhan Li Yongbo itu tetap melenggang menuju Makau, tempat kualifikasi yang sekaligus menjadi ajang kejuaraan beregu Asia itu berlangsung. Mengejar poin untuk Olimpiade --yang ditawarkan pada kualifiksi tersebut-- menjadi alasan keikutsertaan mereka.
Akankah penampilan "heroik" melawan Korea terulang kembali saat bertemu China? Simon Santoso dan kawan-kawan lah yang mampu menjawab. (*)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com