Langkah perempuan atasi trauma perkosaan angkot
Senin, 13 Februari 2012 12:31 WIB | 3733 Views
Maria Rosari Dwi Putri
Barang Bukti Angkot Barang bukti mobil angkot yang digunakan dua tersangka saat melakukan pemerkosaan di angkot terhadap siswi Sekolah Menengah Kejuaruan (SMK) di kota Palu pada hari Kamis (9/2) 2012 (ANTARA/Fiqman Sunandar)
...pencandu itu tak mampu berhenti. Apalagi, muncul fantasi-fantasi seksual yang semakin liar. Fantasi ini membuat pencandu mencari berbagai modus perilaku seksual karena perilaku sebelumnya tidak memuaskan lagi,"
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - "Ayoo mbak, naik saja.. Tak apa, sudah ada temennya di dalam tuh. Ayo mbak, aman kok..," ajak seorang supir angkutan umum D04, jurusan Bumi Serpong Damai-Cikokol pada malam sekitar pukul 21.00WIB.
Si supir sedang mangkal di dekat stasiun Rawa Buntu, Tangerang, dan berusaha meyakinkan calon penumpang bahwa kendaraannya aman ditumpangi.
Sudah beberapa waktu terakhir ini, dia punya "tugas" tambahan yaitu menyakinkan calon penumpang khususnya perempuan tentang keamanan di dalam angkutannya.
Sejak terjadinya serangkaian perkosaan di angkot, sudah jadi pemandangan biasa jika calon penumpang perempuan sengaja menunggu di luar dan baru masuk jika kursi hampir terisi penuh.
"Saya menunggu ada perempuan lain yang menaiki angkutan, baru saya naik," ujar Wulan Savitri, seorang karyawati yang berdomisili di daerah Serpong, yang juga seorang pengguna setia transportasi umum
Rasa was-was juga menghampiri Risma Indria, yang mengaku menunggu angkutan hingga setengah penuh, baru dia berani menumpanginya.
"Saya takut kalau sepi, was-was saja rasanya. Apalagi kalau pulang malam, tau sendiri kan banyak berita soal pelecehan seksual dan perkosaan," ujar perempuan yang akrab disapa Indri ini.
Pemicu
Psikolog klinis, Felix Lengkong, M.A., Ph.D, yang juga berprofesi
sebagai dosen dari Universitas Atma Jaya ini, mengatakan berbagai kasus serupa yang terjadi dan menimpa kaum perempuan memang marak diberitakan oleh media massa.
Menurut Felix, kasus-kasus itu bukanlah termasuk dalam epidemik perkosaan. "Dilihat dari sisi psikologis, ini merupakan indikasi terhadap suatu epidemik lain.Gejala-gejala ini merupakan indikasi terhadap suatu epidemik seperti pornografi dan pergaulan bebas yang melibatkan hubungan persetubuhan," kata Felix dalam perbincangan dengan Antara News.
.Menurut Felix, masalah ini berkaitan dengan permasalah pornografi dan pergaulan bebas masyarakat.
"Pelaku kemungkinan besar mengalami gangguan intra-psikis yang disebut kecanduan alias adiksi," ungkap Felix lalu menambahkan bahwa akibat dari kecanduan tersebut, pelaku alami kesulitan untuk membedakan ruang publik dan ruang pribadi yang tersembunyi.
Felix menjelaskan bahwa kecanduan yang sudah tidak dapat dikontrol oleh daya pikir manusia, lama-kelamaan akan melakukan tindakan yang bersifat ekspulsif. Lama kelamaan muncul berbagai konsekuensi negatif dan pencandu terjebak dalam perilaku destruktif seperti memperkosa.
"Kendati tetap muncul pikiran untuk menghentikan kecanduan itu, pencandu itu tak mampu berhenti. Apalagi, muncul fantasi-fantasi seksual yang semakin liar. Fantasi ini membuat pencandu mencari berbagai modus perilaku seksual karena perilaku sebelumnya tidak memuaskan lagi," kata Felix.
"Kendati berisiko tinggi, pelaku tetap nekad karena sudah adiksi berat dan konsekuensi kenikmatan tinggi," lanjut dia.
Pelaku tidak hanya melakukan tindakan kriminalitas yang menteror masyarakat. Perilakunya yang menyimpang sudah membutuhkan penanganan secara psikologis.
"Sebaiknya pelaku bukan hanya dihukum penjara, melainkan juga diberikan penanganan psikolog. Kecanduannya sudah patologis dan membahayakan orang lain," ujar Felix.
Atasi trauma
Menurut Felix, perkosaan dan pelecehan seksual merupakan salah satu peristiwa yang secara kuantitatif sangat sering mengakibatkan trauma mental.
Persoalannya, trauma itu bukan hanya diakibatkan oleh pengalaman langsung. Misalnya, orang mengalami perkosaan secara langsung. Tapi, pengalaman traumatis bisa juga terjadi hanya karena menonton berita di televisi.
Hal inilah yang terjadi pada Wulan Savitri dan Risma Indria yang merasa was-was dan cemas setiap kali menggunakan jasa transportasi umum.
Hal berbeda justru diungkapkan Novalisa, seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Jakarta Barat.
"Saya pikir, kalau terus menerus takut, bagaimana kita bisa 'move on'. Kalau tidak naik angkutan umum lantas mau naik apa lagi? Taksi jelas mahal, ojek juga terbatas kan," ujar Novalisa yang berusaha untuk berpikir positif bila berpergian menggunakan angkutan umum.
Sependapat dengan Novalisa, Audrey Ismail mengatakan bahwa rasa takut dan cemas itu harus 'dibunuh'. Akan tetapi jangan sampai menumpulkan rasa waspada.
"Waspada itu harus, tapi jangan lalu paranoid. Kalau kita terus menerus paranoid, bagaimana bisa beraktivitas dengan lancar," ujar Audrey yang merupakan pengguna jasa transportasi kereta api listrik dan angkutan umum.
Audrey mengaku, dirinya selalu mengandalkan cairan cabai yang dia buat sendiri, untuk berjaga-jaga. "Ini salah satu antisipasi saja, namun percuma kalau tidak waspada," katanya.
Bagi para korban perkosaan dan pelecehan seksual, Felix justru menyarankan sebaiknya para korban untuk mengingat peristiwa secara detil. Ketika tidak lagi merasa sakit hati saat mengingat peristiwa, baru peristiwa itu di simpan ke masa lalu.
"Penyimpanan ke masa lalu itu baru bisa terjadi jika kurban mampu menerima peristiwa itu sebagai bagian dari sejarah hidupnya. Ia juga mesti menyadari bahwa ada banyak orang lain mengalami derita serupa," ujar Felix yang menambahkan bahwa keluarga atau teman-teman harus memberikan dukungan kepada korban.
"Dukungan dapat berupa penyelidikan secara hukum," ujarnya.
Felix sendiri mengimbau agar pihak kepolisian dan kementerian terkait seharusnya menjamin keamanan bangsa ini. Menurutnya, pemerkosaan itu hanyalah satu gejala dari beberapa penyakit parah bangsa ini, seperti perekonomian yang parah, pemerintahan yang koruptif, pendidikan nilai yang bobrok, bukan hanya di sekolah melainkan juga di keluarga.
"Akibatnya terjadi gangguan mental pada banyak orang, terutama anak-anak muda. Mereka menjadi mudah kehilangan kontrol diri," ungkap Felix.
(M048)
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com