Jakarta (ANTARA News) - Ketika Bank Indonesia (BI) mengumumkan penurunan suku bunga acuannya (BI rate), maka harapan berbagai kalangan agar perbankan nasional menurunkan bunga kreditnya ikut menyeruak.

Namun, meski sejak setahun terakhir BI beberapa kali menurunkan bunga acuannya, belum ada perbankan nasional yang menurunkan bunga kreditnya secara signifikan.

Kalau pun ada besarannya hanya di bawah satu persen, belum memenuhi harapan sejumlah kalangan seperti pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Itu pun perlu menunggu sekitar dua atau tiga bulan setelah penurunan bunga acuan diumumkan BI.

Saat ini suku bunga kredit masih di atas 10 persen, sementara berbagai kalangan menyatakan bahwa bunga kredit yang wajar adalah dua atau tiga persen di atas BI rate.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Jumat ( 10/2) memutuskan menurunkan kembali BI Rate senilai 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Ini penurunan yang kesekian kalinya sejak setahun terakhir.

Alasan penurunan kali ini adalah bank sentral berupaya untuk menjaga ekonomi Indonesia agar tidak terpengaruh jauh dengan krisis utang yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri pada tahun lalu berhasil mencapai angka 6,5 persen.

Barangkali patut disimak pendapat Gubernur BI Darmin Nasution tentang keterkaitan antara penurunan BI rate dengan bunga kredit. Darmin Nasution menyatakan bahwa penurunan itu tidak otomatis akan diikuti penurunan suku bunga dasar kredit perbankan.

"Suku bunga kredit tidak melulu mengandalkan BI rate. Itu hanya salah satu faktor," katanya. Ia menambahkan bahwa bank sentral hanya mampu mendorong agar perbankan menurunkan bunga kreditnya.

Untuk itu sejak setahun terakhir BI mengeluarkan peraturan yang secara persuasi memaksa perbankan untuk menurunkan bunga kredit. Bulan depan BI direncanakan akan mengeluarkan kebijakan mengenai suku bunga dasar kredit (SBDK). Selama ini bank menargetkan tingkat SBDK satu digit di rencana bisnis bank (RBB).

Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI, Wimboh Santoso, menambahkan bahwa masih sulit memangkas bunga kredit ritel, karena bisnis ini membutuhkan biaya dana tinggi. Penurunan bunga kredit, katanya, masih harus mempertimbangkan pengumpulan dana pihak ketiga, pertumbuhan kredit dan target laba.

Pertimbangan inilah yang tampaknya sulit dipengaruhi oleh imbauan dan peraturan yang dikeluarkan bank sentral, kecuali kebijakan jangka panjang yang mengarah kepada efisiensi perbankan.

Bayangkan, jika bank yang sudah go public sudah menargetkan laba yang ditetapkan dalam RUPS, maka manajemen bank akan berupaya meraih target itu dengan segala upaya seperti memberi hadiah dan bunga simpanan khusus. Selain karena pencapaian target laba itu bakal mempengaruhi kinerja manajemenn, juga bisa mempengaruhi kinerja perseroan di lantai bursa.

Kinerja perseroan yang baik, ditandai dengan kenaikan dan perolehan laba bersih yang besar, adalah daya tarik bagi investor untuk memiliki saham bank tersebut.

Dari sisi ini, terlihat bahwa tidak mungkin ada korelasi langsung antara penurunan BI rate dengan bunga kredit. Artinya, bagaimana mungkin bank menurunkan bunga kredit jika akhirnya dikhawatirkan kinerja mereka di bursa memburuk, yang ditandai dengan kecilnya laba yang diperoleh.

Barangkali penurunan bunga kredit ini masih berproses dan membutuhkan dukungan sejumlah pihak, termasuk masyarakat..

Pemerintah perlu menerbitkan kebijakan yang mendorong peningkatan investasi dan perkembangan dunia usaha, sehingga pangsa pasar perbankan nasional terus bertumbuh.

Sementara BI kelihatannya perlu mengawasi operasional perbankan nasional dengan lebih seksama, sehingga tidak ada bank yang beroperasi dengan sumber daya yang kecil. Juga agar tidak ada bank yang melaksanakan praktek-praktek di luar peraturan.

Jika suatu saat BI kembali mengumumkan penurunan BI rate, maka semua kalangan seperti pengusaha kecil dan menengah dan debitur kredit pemilikan rumah (KPR) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) diharapkan bisa merasa gembira karena kebijakan bank sentral itu akan diikuti dengan penurunan bunga kredit bank.
(T.A023)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar