"Kalau mau cari paku, di jalanan saja..."
Sabtu, 11 Februari 2012 20:35 WIB | 2005 Views
Monalisa
Bersihkan Ranjau Paku Seorang relawan yang tergabung dalam Komunitas Saber (Sapu Bersih) menunjukan paku hasil operasinya di jalan Kyai Haji Hasyim Ashari, Jakarta, Minggu (5/2). Walaupun relawan anti ranjau paku sudah melakukan pembersihan paku, namun masih saja ada paku yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan rencananya pihak Kepolisian akan menggelar razia tambal ban pinggir jalan. (FOTO ANTARA/Zabur Karuru)
Kalau ancaman, pasti, anggota komunitas saber sudah mendapat berbagai ancaman. Seperti diteriakin kata-kata kasar, di lempar ban bekas, batu, teror lewat SMS,"
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - "Kalau mau cari paku di jalanan saja, tidak usah ke toko" Begitulah ucap Yosi, anggota komunitas Saber (Sapu Bersih) paku.
Tidak heran jika kata-kata itu terlontar. Bagaimana tidak,
setiap hari Yosi bisa mendapat 1,5 kilogram paku dari jalan di jalur Roxy hingga Monumen Nasional; jarak sekitar tiga kilometer saja.
"Kalau dulu bisa lebih banyak lagi," kata Yosi yang rajin mengambil paku dan jalan setiap pagi dan malam itu. Dia bukan "tukang sapu" biasa, melainkan anggota komunitas Saber yang peduli pada keselamatan dan keamanan pengendara di jalan-jalan Jakarta.
Komunitas Saber ini cuma 18 orang di Jakarta, mereka tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta
Timur.
Sebelum bergabung dengan komunitas itu, Yosi sudah mulai
memungut paku terlebih dahulu. Ia berkisah, beberapa tahun yang lalu ia
mengalami kecelakaan akibat menghindari ranjau paku. "Motor saya hancur padahal baru kredit dua bulan, lutut saya juga cedera," kata pria yang memiliki warung makan itu.
Dari
situlah awal mula Yosi akhirnya mulai rajin memungut paku di jalan
terutama di sepanjang Jalan Hasyim Ashari, dekat kediamannya.
"Dulu saya masih memungut paku pakai tangan. Tangan saya sampai kebal dengan paku, tidak perlu sapu tangan," ujarnya.
Setiap
pukul 04.00 WIB, Yosi sudah bersiap turun ke jalan untuk memburu paku.
Sedangkan saat malam, ia bergerak mulai pukul 19.00 WIB. Kadang Yosi
berburu sendirian, kadang bergabung dengan teman-teman komunitas saber
lainnya.
"Selama lima bulan ini, sudah lebih dari 40 kilogram paku yang sudah
saya kumpulkan," kata Yosi sambil menunjukkan berember-ember paku di
rumahnya.
Sejak bergabung dengan komunitas saber, Yosi diberi
bekal magnet bekas speaker berdiameter 10 cm yang dikaitkan dengan bekas
kabel listrik, ada juga yang disambung dengan bekas gagang sapu.
Awal mula pertemuan Yosi dengan komunitas saber yakni pada Juli
2011, saat ia tengah mencari paku seperti biasanya, lalu ia bertemu
dengan sekelompok orang yang juga melakukan hal yang sama. "Akhirnya
kenalan," katanya.
Sebulan berselang, pada 5 Agustus 2011, dibentuklah secara resmi
komunitas saber yang dengan sukarelawan memungut paku di jalan tanpa
imbalan apapun.
Mereka bersatu untuk mencari paku. Mereka tidak
dibayar, namun tak kunjung menyerah untuk 'menyelamatkan' pengendara
dari ranjau paku yang disebar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Dalam kurun waktu empat bulan, sudah terkumpul 300 kilogram paku," kata Ketua Komunitas Saber, Siswanto.
Tidak Menyerah
Namun, kehadiran komunitas saber ternyata menjadi ancaman untuk kelompok penebar paku tersebut.
"Kita main kucing-kucingan," kata anggota komunitas saber wilayah
Jakarta Timur, Agus, yang juga sudah sering memungut paku sebelum
bergabung dengan komunitas saber.
Menurut Agus, jika kelompok
saber sedang menyapu paku, ada oknum yang memantau mereka. Jalanan yang
telah ia bersihkan dari paku, akan ditabur lagi dengan paku oleh oknum
yang tidak bertanggungjawab itu.
"Makanya kita kerja estafet. Setelah saya, pasti ada anggota lain yang nantinya akan 'sweeping' di tempat yang sama," ujarnya.
Agus,
yang memiliki 'daerah kekuasaan' dari depan Perumahan Harapan Indah
Bekasi hingga Pulo Gadung itu (sekitar 6 kilometer), kerap mendapat
ancaman.
"Kalau ancaman, pasti, anggota komunitas saber sudah mendapat
berbagai ancaman. Seperti diteriakin kata-kata kasar, di lempar ban
bekas, batu, teror lewat sms," kata Agus yang menggunakan tambahan roda
untuk alat pemungut pakunya.
Ketua komunitas saber, Siswanto, bahkan pernah nyaris sengaja ditabrak sebuah motor saat sedang memungut paku.
"Kita tidak akan menyerah," kata Yosi.
Yosi
mengaku sudah hafal betul tipe-tipe paku yang disebar 'sindikat' itu.
Misal paku di sekitar wilayah Istana Kepresidenan paku berwarna hitam
yang sudah dibakar dengan ukuran 3 sentimeter.
Sedangkan paku di wilayah Petojo biasanya paku yang sudah
'amburadul'. Kalau paku di wilayah Pulo Gadung merupakan jari-jari
payung yang dipotong sepanjang 4 sentimeter.
Pergerakan 'sindikat' itu menurut Yosi juga semakin menjadi-jadi jika menjelang hari libur atau saat hujan.
"Hujan-hujan saya juga cari paku. Itu sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari saya," katanya.
Saking
gerahnya dengan ulah mereka, kata Yosi, ia bahkan sering mengintai
hingga mengejar pelaku yang ketangkap matanya sedang menebar paku.
Pada 19 oktober 2011, komunitas saber berhasil menangkap basah
sekelompok penebar paku di daerah Cengkareng. Namun yang dua lolos,
hanya satu yang tertangkap, kata Yosi.
Tersangka, yang baru saja
dituntut masa tahanan sembilan tahun itu, ditangkap dan ditemukan dua
dus paku berukuran 3 sentimeter di dalam kantongnya. Kemudian mereka
menyerahkan ke kepolisian setepat beserta barang bukti.
"Sebenarnya kami tahu beberapa sindikat lain, tetapi kesulitan kami
adalah harus ada barang bukti, saksi, dan korban" jelas Yosi.
Apresiasi
Karena
keberhasilan mereka menangkap oknum penebar paku, Walikota Jakarta
Barat, H. Burhanuddin, memberikan masing-masing anggota penghargaan
khusus. Mereka juga mendapat bantuan berupa rompi seragam bagi
masing-masing anggota.
Tidak hanya itu, komunitas saber juga mendapat helm untuk mereka gunakan saat operasi oleh sponsor.
Atas
kerja keras tanpa pamrih dan konsisten, lagi-lagi mereka mendapat
penghargaan yang diberikan langsung oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol
Dr Untung S. Rajab, SH dihadapan para pejabat dan personel Polda Metro
Jaya, baik dari satuan Serse, Lantas, Brimob, maupun Sabhara pada 11
Januari lalu.
"Kami dinilai membantu kinerja kepolisian dan sukses menekan
pergerakan oknum penebar paku yang sudah termasuk sindikat. Kami bahkan
disebut polisi masyarakat," kata Siswanto.
Selain piagam
penghargaan, mereka juga dibekali rompi, peluit, lampu senter, dan lampu
lalu lintas untuk membantu mereka saat beroperasi.
Meskipun baru 'prematur', nama komunitas saber sudah menjulang
tinggi seiring dengan resiko yang harus siap diterima. Siswanto
mengatakan niatnya untuk memperlebar wilayah pergerakannya.
"Tetapi
kami selektif dalam memilih anggota. Biasanya kami jadikan simpatisan
dulu untuk melihat komitmen mereka dan harus punya nyali," terangnya.
Karena selain mendapat ancaman, lanjut Siswanto, resiko ditabrak kendaraan juga amengintai mereka.
"Sudah ada anggota yang ditabrak motor yang melaju kencang. Untungnya dia pakai helm," katanya.
Bagi anggota komunitas saber, apa yang mereka lakukan merupakan bentuk
nyata mereka untuk mengabdi pada masyarakat. Mereka juga tidak pernah
menyangka bahwa nama komunitas ini cepat dikenal dan diapresiasi.
"Kadang
ada pengendara motor yang sekedar mengacungkan jempol dan mengucapkan
terimakasih. Itu saja kami sudah senang," kata anggota komunitas saber
lainnya, Kwee dolie (M39).
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com