Bersihkan Ranjau Paku Seorang relawan yang tergabung dalam Komunitas Saber (Sapu Bersih) menunjukan paku hasil operasinya di jalan Kyai Haji Hasyim Ashari, Jakarta, Minggu (5/2). Walaupun relawan anti ranjau paku sudah melakukan pembersihan paku, namun masih saja ada paku yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan rencananya pihak Kepolisian akan menggelar razia tambal ban pinggir jalan. (FOTO ANTARA/Zabur Karuru)

Kalau ancaman, pasti, anggota komunitas saber sudah mendapat berbagai ancaman. Seperti diteriakin kata-kata kasar, di lempar ban bekas, batu, teror lewat SMS,"
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - "Kalau mau cari paku di jalanan saja, tidak usah ke toko"  Begitulah ucap Yosi, anggota komunitas Saber (Sapu Bersih) paku.

Tidak heran jika kata-kata itu terlontar. Bagaimana tidak, setiap hari Yosi bisa mendapat 1,5 kilogram paku dari jalan di jalur Roxy hingga Monumen Nasional; jarak sekitar tiga kilometer saja.

"Kalau dulu bisa lebih banyak lagi," kata Yosi yang rajin mengambil paku dan jalan setiap pagi dan malam itu. Dia bukan "tukang sapu" biasa, melainkan anggota komunitas Saber yang peduli pada keselamatan dan keamanan pengendara di jalan-jalan Jakarta.

Komunitas Saber ini cuma 18 orang di Jakarta, mereka tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur.

Sebelum bergabung dengan komunitas itu, Yosi sudah mulai memungut paku terlebih dahulu. Ia berkisah, beberapa tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan akibat menghindari ranjau paku. "Motor saya hancur padahal baru kredit dua bulan, lutut saya juga cedera," kata pria yang memiliki warung makan itu.

Dari situlah awal mula Yosi akhirnya mulai rajin memungut paku di jalan terutama di sepanjang Jalan Hasyim Ashari, dekat kediamannya.

"Dulu saya masih memungut paku pakai tangan. Tangan saya sampai kebal dengan paku, tidak perlu sapu tangan," ujarnya.

Setiap pukul 04.00 WIB, Yosi sudah bersiap turun ke jalan untuk memburu paku. Sedangkan saat malam, ia bergerak mulai pukul 19.00 WIB. Kadang Yosi berburu sendirian, kadang bergabung dengan teman-teman komunitas saber lainnya.

"Selama lima bulan ini, sudah lebih dari 40 kilogram paku yang sudah saya kumpulkan," kata Yosi sambil menunjukkan berember-ember paku di rumahnya.

Sejak bergabung dengan komunitas saber, Yosi diberi bekal magnet bekas speaker berdiameter 10 cm yang dikaitkan dengan bekas kabel listrik, ada juga yang disambung dengan bekas gagang sapu.
 
Awal mula pertemuan Yosi dengan komunitas saber yakni pada Juli 2011, saat ia tengah mencari paku seperti biasanya, lalu ia bertemu dengan sekelompok orang yang juga melakukan hal yang sama. "Akhirnya kenalan," katanya.

Sebulan berselang, pada 5 Agustus 2011, dibentuklah secara resmi komunitas saber yang dengan sukarelawan memungut paku di jalan tanpa imbalan apapun.

Mereka bersatu untuk mencari paku. Mereka tidak dibayar, namun tak kunjung menyerah untuk 'menyelamatkan' pengendara dari ranjau paku yang disebar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Dalam kurun waktu empat bulan, sudah terkumpul 300 kilogram paku," kata Ketua Komunitas Saber, Siswanto.


Tidak Menyerah

Namun, kehadiran komunitas saber ternyata menjadi ancaman untuk kelompok penebar paku tersebut.

"Kita main kucing-kucingan," kata anggota komunitas saber wilayah Jakarta Timur, Agus, yang juga sudah sering memungut paku sebelum bergabung dengan komunitas saber.

Menurut Agus, jika kelompok saber sedang menyapu paku, ada oknum yang memantau mereka. Jalanan yang telah ia bersihkan dari paku, akan ditabur lagi dengan paku oleh oknum yang tidak bertanggungjawab itu.

"Makanya kita kerja estafet. Setelah saya, pasti ada anggota lain yang nantinya akan 'sweeping' di tempat yang sama," ujarnya.

Agus, yang memiliki 'daerah kekuasaan' dari depan Perumahan Harapan Indah Bekasi hingga Pulo Gadung itu (sekitar 6 kilometer), kerap mendapat ancaman.

"Kalau ancaman, pasti, anggota komunitas saber sudah mendapat berbagai ancaman. Seperti diteriakin kata-kata kasar, di lempar ban bekas, batu, teror lewat sms," kata Agus yang menggunakan tambahan roda untuk alat pemungut pakunya.

Ketua komunitas saber, Siswanto, bahkan pernah nyaris sengaja ditabrak sebuah motor saat sedang memungut paku.

"Kita tidak akan menyerah," kata Yosi.

Yosi mengaku sudah hafal betul tipe-tipe paku yang disebar 'sindikat' itu. Misal paku di sekitar wilayah Istana Kepresidenan paku berwarna hitam yang sudah dibakar dengan ukuran 3 sentimeter.

Sedangkan paku di wilayah Petojo biasanya paku yang sudah 'amburadul'. Kalau paku di wilayah Pulo Gadung merupakan jari-jari payung yang dipotong sepanjang 4 sentimeter.

Pergerakan 'sindikat' itu menurut Yosi juga semakin menjadi-jadi jika menjelang hari libur atau saat hujan.

"Hujan-hujan saya juga cari paku. Itu sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari saya," katanya.

Saking gerahnya dengan ulah mereka, kata Yosi, ia bahkan sering mengintai hingga mengejar pelaku yang ketangkap matanya sedang menebar paku.

Pada 19 oktober 2011, komunitas saber berhasil menangkap basah sekelompok penebar paku di daerah Cengkareng. Namun yang dua lolos, hanya satu yang tertangkap, kata Yosi.

Tersangka, yang baru saja dituntut masa tahanan sembilan tahun itu, ditangkap dan ditemukan dua dus paku berukuran 3 sentimeter di dalam kantongnya. Kemudian mereka menyerahkan ke kepolisian setepat beserta barang bukti.

"Sebenarnya kami tahu beberapa sindikat lain, tetapi kesulitan kami adalah harus ada barang bukti, saksi, dan korban" jelas Yosi.


Apresiasi

Karena keberhasilan mereka menangkap oknum penebar paku, Walikota Jakarta Barat, H. Burhanuddin, memberikan masing-masing anggota penghargaan khusus. Mereka juga mendapat bantuan berupa rompi seragam bagi masing-masing anggota.

Tidak hanya itu, komunitas saber juga mendapat helm untuk mereka gunakan saat operasi oleh sponsor.

Atas kerja keras tanpa pamrih dan konsisten, lagi-lagi mereka mendapat penghargaan yang diberikan langsung oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Dr Untung S. Rajab, SH dihadapan para pejabat dan personel Polda Metro Jaya, baik dari satuan Serse, Lantas, Brimob, maupun Sabhara pada 11 Januari lalu.

"Kami dinilai membantu kinerja kepolisian dan sukses menekan pergerakan oknum penebar paku yang sudah termasuk sindikat. Kami bahkan disebut polisi masyarakat," kata Siswanto.

Selain piagam penghargaan, mereka juga dibekali rompi, peluit, lampu senter, dan lampu lalu lintas untuk membantu mereka saat beroperasi.

Meskipun baru 'prematur', nama komunitas saber sudah menjulang tinggi seiring dengan resiko yang harus siap diterima. Siswanto mengatakan niatnya untuk memperlebar wilayah pergerakannya.

"Tetapi kami selektif dalam memilih anggota. Biasanya kami jadikan simpatisan dulu untuk melihat komitmen mereka dan harus punya nyali," terangnya.

Karena selain mendapat ancaman, lanjut Siswanto, resiko ditabrak kendaraan juga amengintai mereka.

"Sudah ada anggota yang ditabrak motor yang melaju kencang. Untungnya dia pakai helm," katanya.

Bagi anggota komunitas saber, apa yang mereka lakukan merupakan bentuk nyata mereka untuk mengabdi pada masyarakat. Mereka juga tidak pernah menyangka bahwa nama komunitas ini cepat dikenal dan diapresiasi.

"Kadang ada pengendara motor yang sekedar mengacungkan jempol dan mengucapkan terimakasih. Itu saja kami sudah senang," kata anggota komunitas saber lainnya, Kwee dolie (M39).

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar