Yang porno, yang korupsi
Jumat, 10 Februari 2012 16:53 WIB | 3468 Views
A.A. Ariwibowo
ILustrasi Anti Korupsi (ist)
Mereka yang suka menilep uang rakyat terhisap oleh pusaran birahi uang demi memuaskan tubuh. Predator uang rakyat mengumbar hasrat "yang porno"
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Porno ah, bila tubuh bohay dikonsumsi mata apalagi dipuja hati untuk disebut sebagai "yang seksi nan sensual". Sekejap kedipan mata dan sekelebatan aroma parfum wangi mawar mengisyaratkan warta, "Aku naksir kamu. Ini soal asmara yang memabukkan, bukan politik yang menjemukan."
Dari mata turun ke hati, begitu orang menyebut asal muasal cinta. Dari transaksi turun ke korupsi, begitu orang menaruh syak wasangka terhadap pengelolaan uang negara. Kredonya, banyak korupsi di ladang politik uang lantaran ada kesempatan.
Nilep uang rakyat, itu kan porno, karena mengelabui mata untuk memuja keinginan perut yang tiada terbatas tanpa mau bekerja keras. Porno ah, bila pegawai pemerinah daerah (pemda), pajak, serta Bea dan Cukai paling banyak melakoni transaksi keuangan yang mencurigakan.
Pada 2011, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menerima 282.700 laporan, 2118 di antaranya transaksi keuangan mencurigakan. Lagi-lagi, Indonesia Corruption Watch (ICW) melansir survei mengenai tren penegakan hukum korupsi.
Hasilnya, tersangka berlatar belakang pegawai negeri sipil (PNS) menyabet urutan teratas sebagai doyan nilep uang rakyat.
Dari 528 kasus, sebanyak 239 tersangka korupsi didominasi PNS. Ini jelas-jelas warta porno bagi sejumlah PNS. Mau penegasan lagi seperti cinta yang selalu memerlukan pupuk kasih tiada henti? Silakan membuka mata dan membuka hati.
"Mayoritas laporan berasal dari pegawai pemda seperti kepala daerah dengan motif membeli polis asuransi ke anaknya atau bermain saham. Ada pula proyek yang menggunakan rekening pribadi. Banyak juga pegawai pajak, Bea dan Cukai, maupun diknas serta Kementrian Kesehatan," kata Ketua PPATK Muhammad Yusuf.
Wow...pegawai pajak, Bea dan Cukai, diknas dan Kementrian Kesehatan terindikasi suka nilep uang rakyat. Temuan PPATK dikuatkan lagi dengan temuan ICW. Bidang pendidikan paling korup selama 2011, yakni 54 kasus dengan kerugian negara Rp115,7 miliar. Sektor keuangan daerah berada di posisi kedua dengan 51 kasus disusul sosial kemasyarakatan.
Nah, bagaimana rakyat mau sehat, bila uang bidang kesehatan dicuri? Bagaimana rakyat mau terdidik dan terpelajar, bila fulus bidang pendidikan diembat? Bagaimana pemerintah mau membangun dan menyejahterakan rakyatnya bila uang pajak digarong? Absurd ah!
Para predator kian bersemangat menggasak uang rakyat. Ini porno juga kan? Betapa tidak, pada 2005, sektor pendidikan mendapat alokasi APBN Rp33,4 trilyun dan pada 2011 melejit menjadi Rp248 trilyun. "Dari anggaran Rp248 triliun itu, Rp162 triliun larinya ke daerah dan itu sangat rawan dikorupsi," kata anggota Komisi X DPR Reni Marlinawati.
Secara terpisah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh tak menyangkal bahwa meroketnya anggaran membuka kesempatan bagi para predator uang rakyat, sebagaimana ditulis oleh sebuah harian ibukota.
Kalau saja rakyat dapat melantunkan tembang dari Ayu Ting Ting, maka rakyat bakal rame-rame mengiba dengan mendayu-dayu, di mana, di mana, di mana.... Dengan mengusung keindahan syair lagu dan mengikuti partitur nada berirama, rakyat melakoni permenungan sisi estetika, bukan justru "estetisasi".
Estetisasi, adalah perilaku yang terus memperindah tampilan demi mendulang pertunjukan diri di panggung kehidupan. Bersolek necis untuk mengundang tepuk tangan dan berdandan apik untuk mengundang puja-puji suporter di laga berlabel Indonesia.
Estetisasi menggemari dan menggumuli selebrasi gebyar. Disebut-sebut oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 6,5 persen. Pada 2011, pendapatan per kapita mencapai Rp30,8 juta, sedangkan pada 2010 hanya Rp27,1 juta. Inikah selebrasi sarat gebyar? Ini estetisasi.
Terang benderang dan tanpa tedeng aling-aling. Nyatanya, pendapatan per kapita belum dirasakan rakyat yang hampir miskin dan miskin. "Kita belum cukup mengurangi kemiskinan dan membawa masyarakat ke kelas menengah. Soalnya 50 persen masyarakat kita masih berpendidikan Sekolah Dasar," kata ekonom Aviliani.
Kalau pendidikan terkena virus estetisasi dengan mewabahnya korupsi, maka artinya ada kemenduaan demi memuja birahi uang. Di permukaan boleh serba indah, sementara di balik itu semua tersimpan kebobrokan.
Kalau kesehatan terimbas virus estetisasi dengan mewabahnya korupsi, maka artinya ada kemenduaan antara dunia nyata dengan dunia mimpi demi memuja keelokan tubuh.
Mereka yang suka menilep uang rakyat terhisap oleh pusaran birahi uang demi memuaskan tubuh. Predator uang rakyat mengumbar hasrat "yang porno". Yang porno mengenal perbendaharaan pemuasan hasrat birahi, seperti tarian erotis, striptease, cyber-sex, video erotis. Yang porno, yang korupsi!
Secara guyonan, bukankah predator uang rakyat menggemari dunia esek-esek. Silakan mencari dan menemukan koruptor di dunia erotis. Kata pepatah Latin klasik, stultorum infinitus numerus est (jumlah orang sinting itu tidak terbatas).
(A024)
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com