Warga berjalan melewati sebuah mobil yang tertutup salju tebal di Bukares, Minggu (5/2). Cuaca dingin ekstrim melanda seluruh wilayah Eropa menyebabkan tewasnya sejumlah orang dan mengganggu aktivitas transportasi, dengan peringatan akan serangan suhu beku bertahan hingga minggu depan. (REUTERS/Radu Sigheti)

Berita Terkait
Pekanbaru (ANTARA News) - Pakar lingkungan dari Universitas Riau (UR) Tengku Ariful Amri mengatakan gangguan iklim di sebagai wilayah Eropa yang menyebabkan kemunculan gelombang udara dingin juga memberikan dampak buruk terhadap sejumlah wilayah di Asia termasuk Indonesia.

"Gelombang dingin Eropa itu, menimbulkan gejala alam yang luar biasa atau sangat mempengaruhi kondisi suhu udara dan cuaca di berbagai wilayah tanah air," kata Ariful di Pekanbaru, Jumat.

Yang paling jelas terlihat, kata Ariful yang juga Direktur Rona Lingkungan UR ini, kondisi tersebut memberikan dampak fluktuatif cuaca di berbagai kawasan.

Kalau di Eropa itu gelombang dingin sudah menewaskan lebih dari 60 orang, katanya, ditepat untuk Indonesia, terjadi berbagai bencana seperti banjir dan kekeringan.

Hal demikian juga menurut Ariful, telah menjadi potret buruk bagi berbagai wilayah tanah air yang tentunya juga akan merugikan masyarakat banyak.

"Seperti yang kita lihat pada hari ini, di Riau atau Pekanbaru, khususnya pada jam-jam tertentu atau subuh dari pukul 02.00 WIB sampai dengan pukul 05.00 pagi, suhu relatif sangat dingin bahkan jauh di bawah normal dari keadaan temperatur normal atau yang biasanya," ujar dia.

Namun memasuki siang hari, sambungnya, suhu udara mendadak panas dan pada sore harinya kerap turun hujan dengan intensitas yang tak menentu pula.

Kondisi demikian menurut Ariful, juga terjadi diberbagai wilayah Indonesia lainnya termasuk untuk Pulu Jawa, Kalimantan dan beberapa wilayah di Pulau Sulawesi yang bahkan sempat terjadi berulang kali memunculkan dampak peristiwa langka yang merugikan, salah satunya yakni angin yang berputar atau berpusar di satu titik tertentu atau biasa disebut puting beliung.

"Puting beliung, seperti yang sama-sama kita ketahui, juga sempat terjadi beberapa kali di wilayah Sumatra termasuk Riau. Nah, seperti yang saya katakan, bahwa perubahan iklim saat ini telah berdampak pada perubahan cuaca yang serba tak menentu dan sulit untuk diprediksi," tuturnya.

Pertanian Terganggu

Hal demikian menurut Ariful, juga mengindikasikan bahwa kawasan hutan tanah air telah rusak, karena gejala alam itu sendiri sangat rentan melanda wilayah-wilayah yang gersang.

Oleh sebab itu, katanya, jawaban kedepan untuk hal-hal terburuk lainnya di berbabagi kawasan negeri ini, adalah gangguan terhadap industri pertanian lokal atau dalam negeri.

Jadi, demikian Amri, kerusakan lingkungan yang banyak menimbulkan berbagai bencana ini, akan mengancam pemenuhan kebutuhan makanan atau kebutuhan pokok masyarakat, bahkan hingga berbagai wilayah negara di Asia dan kawasan dunia.

Karena sekali lagi disebutkan Ariful, iklim sangat mempengaruhi produksi pertanian dan perkebunan secara global.

"Termasuk juga kebuh sawit yang banyak ditanam dan dikelola oleh masyarakat dan berbagai perusahaan asing di berbagai wilayah tanah air, termasuk di Riau juga akan terancam. Karena pada dasarnya, tumbuhan atau mahkluk hidup itu membutuhkan keseimbangan antara air dengan aktivitas suhu itu sendiri," katanya.

"Kondisi demikian juga dipengaruhi oleh perubahan iklim," sambungnya.

Oleh sebab itu, kata Ariful, kata kuncinya yaitu untuk menyelamatkan lingkungan dan produksi pertanian serta perkebunan, yakni dengan cara mendamaikan bumi ini dengan menghijaukan kembali kawasan-kawasan yang `gundul` akibat ulah manusia itu sendiri.

(KR-FZR)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar